JAKARTA – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengungkapkan banjir dan tanah longsor yang menerjang Aceh-Sumatera Utara pada akhir tahun lalu merupakan bencana yang terluas di Indonesia.
Pasalnya, bencana ini terjadi di tiga provinsi besar dan 53 kabupaten/kota di bagian barat Indonesia.
Berdasarkan catatan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), bencana itu menyebabkan 2 juta orang harus berpindah dan mengungsi. Jumlah ini setara dengan separuh Singapura.
“Ini salah satu bencana yang terluas di Indonesia. Itu terjadinya pengungsian, masyarakat yang berpindah (karena) terdampak bencana ini jumlahnya 2.107.941 orang, bayangkan jutaan, separuh negara Singapura, nih,” kata Tito dalam konferensi pers di kantor Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Jakarta Pusat, Rabu (5/8/2026).
“Pernah enggak kita ngalami 53 kabupaten kota terdampak dalam satu bencana? Kayaknya di zaman modern hampir enggak ada sejak Indonesia merdeka,” imbuh dia.
Tito mengungkapkan, berdasarkan data pergi 4 Agustus 2026, jumlah desa yang terdampak mencapai 4.533 desa.
Adapun fasilitas pendidikan yang rusak mencapai 4.922, sementara pusat kesehatan mencapai 954 buah. Selain itu, 1.593 fasilitas ibadah rusak, 1.184 jembatan terdampak, dan 2.485 ruas jalan hancur.
“Fasilitas umum 1.300, entah taman, tempat bermain, dan lain-lain. Dan yang wafat dari data yang terakhir 4 Agustus kami rekap 1.207 (orang), ini lebih tinggi dari waktu pertama kali bencana diklaim 604. Yang hilang 138,” jelas Tito.
Tak hanya itu, rumah-rumah warga pun turut terdampak, baik hancur lebur maupun rusak ringan.
Data Kemendagri per 4 Agustus mencatat, 184.149 rumah terdampak, dengan rincian 95.000 rusak ringan, 43.000 lebih rusak sedang, dan 45.222 rusak berat termasuk hilang dan hanyut akibat banjir dan longsor.
“Saya ingin menyampaikan data ini penting untuk kita, tidak menyederhanakan masalah tapi ini magnitudenya luar biasa,” tutur Tito.
Tak Cukup Setahun
Karena luasnya dampak bencana, Tito mengakui pemulihannya tidak cukup dikebut dalam waktu setahun.
Terlebih, masalah yang dihadapi di lapangan jauh lebih beragam. Di Aceh Utara, misalnya, dampak bencana terasa hingga ke pedalaman meski kotanya seakan tidak terdampak.
Kayu bertumpuk menimpa sekolah, rumah hancur, dan beragam masalah lainnya.
“Saya enggak maksud membela diri, tapi luasnya dampak ini memerlukan waktu enggak bisa diselesaikan waktu setahun. Apalagi kita akan masuk bulan 9, sekarang dari November (bulan bencana terjadi), ke Agustus. Dalam waktu 9 bulan enggak mungkin semuanya total, enggak bisa. Saya jamin enggak akan bisa,” tutur Tito.
Baginya, bencana Aceh-Sumatera adalah yang terbesar yang ia tangani sepanjang karir.
Ia belum pernah menangani bencana sebesar ini, sejak menjabat sebagai Kapolres, Kapolda, hingga Kapolri di masa lalu. “Belum pernah saya mengalami peristiwa bencana yang seluas ini. Pernah saya Kapolri menangani waktu gempa bumi, longsor, tsunami di Palu, satu kota. Pernah di Lombok saya tangani juga waktu itu bersama dengan unsur lain, tapi tidak seluas ini,” tandas Tito.
