JAKARTA, Kenaikan harga minyak dunia hingga menembus 100 dollar AS per barrel berpotensi menambah beban anggaran pemerintah untuk menjaga harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi tetap tidak naik. Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Eko Listyanto mengatakan, kenaikan harga minyak dunia juga berisiko mendorong inflasi karena berdampak terhadap biaya energi dan distribusi. “Meskipun kenaikan harga minyak ini sifatnya temporer dan sangat bergantung dari tensi geopolitik AS-Israel versus Iran, namun tentu akan berdampak ke inflasi, beban kompensasi APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara) demi menjaga BBM bersubsidi tidak naik harga,” kata Eko, Minggu (13/9/2026) dikutip dari Antara.
Menurut Eko, pemerintah perlu menyiapkan anggaran kompensasi untuk mempertahankan harga BBM bersubsidi ketika harga minyak mentah global meningkat.
Ia menilai kebijakan subsidi BBM juga perlu terus diperbaiki agar penyalurannya lebih tepat sasaran dan tidak membebani APBN ketika harga minyak dunia melonjak.
“Beberapa upaya untuk memperbaiki kebijakan subsidi BBM, (yaitu) ke arah penerima yang sesuai menggambarkan bahwa subsidi BBM ini penting untuk terus diupayakan efisien agar tak membengkakkan APBN saat harga minyak melonjak,” ujar Eko. Harga minyak masih di atas 100 dollar AS Mengutip CNBC, harga minyak dunia terkoreksi pada perdagangan Jumat (11/9/2026). Namun, harga minyak Brent dan West Texas Intermediate (WTI) masih berada di atas 100 dollar AS per barrel. Harga minyak Brent, yang menjadi acuan harga minyak global, turun 2,8 persen menjadi 104,61 dollar AS per barrel. Sementara itu, harga minyak WTI turun 2,4 persen menjadi 100,05 dollar AS per barrel.
Meski terkoreksi pada akhir pekan, harga minyak mencatat kenaikan hampir 10 persen dalam sepekan. Pergerakan tersebut menunjukkan masih tingginya tekanan terhadap harga minyak di tengah ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Harga BBM nonsubsidi berpotensi naik Eko mengatakan, kenaikan harga minyak dunia juga dapat berdampak terhadap harga BBM nonsubsidi. Berbeda dengan BBM bersubsidi, harga BBM nonsubsidi mengikuti perkembangan harga pasar. “Soal potensi harga BBM, kalau nonsubsidi akan menyesuaikan harga pasar sehingga masih mungkin terjadi kenaikan-kenaikan berikutnya,” kata Eko. Kenaikan harga BBM nonsubsidi berpotensi meningkatkan biaya operasional industri dan distribusi logistik. Pasalnya, sebagian besar sektor tersebut menggunakan BBM nonsubsidi dalam kegiatan usahanya.
Dampaknya juga dapat merambat ke harga barang karena meningkatnya biaya distribusi. Selain BBM, Eko menyebut sejumlah bahan baku yang berasal dari minyak bumi, seperti plastik, juga berisiko mengalami kenaikan harga. Kondisi tersebut dapat menambah tekanan terhadap inflasi. Terlebih, dari sisi cuaca, saat ini juga terdapat risiko akibat fenomena El Nino. Di sisi lain, perkembangan harga minyak masih dipengaruhi situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah. Penurunan harga pada Jumat terjadi setelah muncul laporan mengenai rencana pertemuan Iran dengan negara-negara Teluk di Oman untuk membahas situasi di Selat Hormuz. Perkembangan diplomasi tersebut menjadi salah satu faktor yang meredakan tekanan di pasar minyak, meskipun ketegangan di kawasan masih berlangsung.

