LOMBOK TENGAH – Pihak penyedia Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Lombok Tengah Mekar Bersatu memberikan penjelasan terkait dugaan makanan basi yang diterima siswa pada Jumat (11/9/2026). Penyedia MBG di bawah naungan Yayasan Budi Sain Mangkling tersebut menegaskan bahwa seluruh proses pengolahan, pengemasan, hingga pengiriman makanan telah dijalankan sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP). Kepala Yayasan Budi Sain Mangkling, Haerudin, menjelaskan bahwa pengemasan hidangan sudah dimulai sejak pagi hari sebelum didistribusikan ke sekolah-sekolah sasaran. “Kalau packing itu jam 05.30 kalau enggak salah, dan berangkatnya ke sekolah itu jam 08.00. Artinya secara prosedural sudah kita jalankan ya dari dapur,” kata Haerudin saat ditemui, Jumat (11/9/2026).
Haerudin menilai, jadwal pengiriman pukul 08.00 WITA sudah memperhitungkan efisiensi waktu distribusi mengingat jarak tempuh ke sekolah tujuan tergolong relatif dekat.
Sajikan Menu Kebab Mayones, Batas Konsumsi Jam 09.00 WITA Haerudin menerangkan, menu MBG yang disajikan pada hari tersebut adalah kebab yang menggunakan campuran bahan mayones. Karakteristik bahan pangan ini memerlukan penanganan khusus dan harus segera dikonsumsi sebelum pukul 09.00 WITA. Sebelum makanan disalurkan ke sekolah-sekolah, pihak dapur memastikan telah melakukan uji sampel secara internal. “Bahkan ini kita juga buat sampel yang mencicipi pertamanya itu bukan saja dari anak-anak, dari teman kita, anggota juga ada yang menyicipi pagi,” ujar Haerudin. Ia menambahkan, konsumsi paket makanan di beberapa sekolah yang lokasinya dekat dengan dapur pengolahan berjalan aman tanpa timbul gejala atau keluhan kesehatan dari para siswa.
Duga Sekolah Tunda Pembagian Karena Acara Maulidan Pihak pengelola dapur menduga masalah timbul akibat adanya penundaan waktu pembagian makanan di tingkat sekolah, sehingga melampaui batas waktu aman konsumsi. “Karena di situ ayamnya kalau dibilang basi wajar karena sudah melampaui mayonesnya. Kebab itu kan campurannya itu, sehingga di bawah jam 09.00 harus dimakan,” ungkapnya. Berdasarkan temuan di lapangan, makanan tidak langsung dibagikan kepada para siswa saat armada tiba karena sekolah sedang menggelar kegiatan internal. Siswa baru menerima dan mengonsumsi makanan tersebut setelah rangkaian acara selesai, di mana kondisinya sudah melewati jam konsumsi aman yang disarankan. “Jadi kita kan di situ ke pendistribusian, kadangkala namanya guru juga seperti tadi kan ada acara maulidan, pulang maulid setelah itu baru dibagikan anak-anak kita. Ya itu juga kan boleh dikatakan sudah melanggar SOP,” papar Haerudin.
Haerudin menegaskan bahwa batas waktu konsumsi serta jenis menu yang akan disajikan telah diumumkan dan disosialisasikan kepada pihak sekolah penerima jauh-jauh hari. “Intinya sekarang anak-anak kita ini makan makanan yang tadi itu tidak tepat sesuai SOP dari menu yang sudah diumumkan jauh-jauh hari,” pungkasnya.

